Cara-Menghitung-THR-Karyawan

Menuju Idul Fitri, salah satu hal yang paling ditunggu bagi pekerja adalah tunjangan hari raya atau THR. Manfaat ini biasanya diberikan dalam bentuk uang dengan jumlah tertentu, tergantung dari gaji karyawan tertentu.

Meskipun jumlahnya bervariasi dari orang ke orang, keberadaan THR masih diperkirakan mendekati Idul Fitri. Mengapa demikian? Karena momen Idul Fitri bukan sekadar merayakan “ujian” puasa sebulan penuh.

Momen ini bukan hanya tentang segala sesuatu yang benar-benar baru. Baik itu material atau tidak material. Bentuk materi baru termasuk persyaratan pakaian dan papan.

Ini bisa dalam bentuk pakaian, aksesoris, barang-barang rumah tangga, dan peralatan elektronik. Sementara itu bentuk immaterial baru termasuk kondisi pikiran dan hati yang baru.

Hal ini dapat tercermin dalam ucapan dan pola pikir yang tidak sempit dan berorientasi ke luar dirinya. Untuk mencapai keduanya, tentu dibutuhkan sesuatu yang bisa mendorong mereka untuk semangat.

Dan salah satu penggeraknya adalah dukungan uang. Meskipun Anda sebagai pemilik bisnis dapat memberikan manfaat dalam bentuk lain, tetapi kebanyakan orang memilih uang sebagai bentuk manfaat utama.

Bagaimana cara menghitung THR untuk karyawan kontrak?

Karyawan kontrak memiliki posisi yang menarik dibandingkan dengan karyawan jenis lain. Posisinya terikat dan cenderung memiliki pegangan dalam hal waktu, membuatnya memiliki peraturan sendiri terkait dengan cara menghitung THR.

Khusus untuk UKM, di mana karyawan sering datang dan pergi dalam waktu kurang dari satu tahun atau bahkan enam bulan.

Jika Anda melihat bisnis menengah seperti binatu rumah atau toko kosmetik di pusat perbelanjaan, karyawan yang bertugas hampir selalu berubah setiap beberapa bulan.

Perubahan cepat ini memengaruhi jumlah THR yang akan mereka dapatkan untuk Idul Fitri. Jika Anda memiliki karyawan kontrak yang hanya akan bekerja hingga enam bulan atau satu tahun di masa mendatang, berikut adalah kondisi yang perlu Anda ingat untuk perhitungan THR mereka.

Yang pertama adalah peraturan pemerintah. Menurut Permenaker yang mengatur penyediaan THR pada bagian sebelumnya, karyawan kontrak dimasukkan dalam dua jenis peraturan, yaitu Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu (PKWT). Di sana, yang termasuk Pekerja Waktu Tertentu adalah:

  • bersifat sementara atau bahkan sekali selesai;
  • Pekerjaan yang diharapkan akan selesai dalam waktu maksimal tiga tahun;
  • Kerja musiman; atau,
  • Aktivitas baru terkait, produk baru, atau produk tambahan yang masih dalam proses uji coba

Jika karyawan Anda memenuhi empat poin di atas, dan hubungan kerja karyawan berakhir setidaknya tiga puluh hari sebelum hari libur keagamaan tiba, ia tidak berhak untuk mendapatkan THR.

Berapa THR yang berhak diberikan karyawan?

Jumlah THR untuk karyawan ini dibagi berdasarkan lama layanan karyawan. Menurut Permenaker No.6 / 2016 pasal 3 ayat 1, masa kerja karyawan dibagi menjadi dua:

  1. Karyawan yang telah bekerja dua belas bulan terus menerus atau lebih
  2. Karyawan yang telah bekerja satu bulan terus bekerja tetapi kurang dari dua belas bulan

Untuk kategori pertama, mereka berhak atas THR dari gaji satu bulan. Sedangkan pada kategori kedua, mereka berhak mendapatkan THR sesuai periode kerja dengan perhitungan: tenure / 12 x 1 bulan upah.

Setelah mengetahui cara menghitung THR karyawan berdasarkan masa kerja, dan terutama karyawan kontrak atau karyawan tidak tetap, Anda sebagai pelaku bisnis tentu dapat mendistribusikan uang THR lebih akurat dan acak.

Informasi ini juga penting jika Anda seorang karyawan di perusahaan. Jika Anda ingin tahu mengapa Anda tidak mendapatkan THR atau uang THR yang Anda dapatkan tidak sesuai dengan perhitungan Anda, maka Anda dapat meminta pihak-pihak terkait atau mendiskusikannya dengan bos Anda. Jadi, apakah Anda siap untuk menghitung THR dengan benar?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 1 =